"Arina!" panggil Marina, kakak kembarku. Aduh! Lagi-lagi panggilan itu! Aku bukannya malas. tetapi, setiap aku menyahuti panggilannya, ia akan berceloteh tentang kucingnya. Sebenarnya, aku tak keberatan. tetapi masalahnya, Marina selalu berceloteh panjang lebar. Huuhh!!!
***
"Arina! Sini!" Ulang Marina. kali ini, ia mengelilingi ruang tamu. mencariku! Ya, dia mencariku! Aduh! Aku harus sembunyi!
Aku berlari ke kamarku. ya, kamarku dan Marina memang dipisah. itu permintaan Marina karena dia harus tidur bersama Michey, kucing kesayangannya.
"Aduhh.. Dimana anak itu?" keluh Marina ketika aku sudah sampai di kamar. Haahh!! Lega sekali! Di kamar, aku mengunci pintu, lalu bergegas mengambil kertas dan pensil.Aku akan menulis surat palsu untuknya!
***
"Dear Marina...
Jaga rumah baik-baik ya! Aku harus pergi. karena, aku ada janji dengan temanku.
Maaf ya Rin, Arina harus meninggalkan Marina sendirian dirumah..
Kuharap kau tak keberatan!"
Aku memandang puas surat palsuku! Hahaha!!! Dengan begitu, kakakku tak akan berceloteh padaku! Haaahh, bebaslah aku!
***
Aku mengintip dari jendela. Aman! Marina sedang dikamarnya. sepertinya ia sedang bermain dengan kucingnya. karena, ada suara "miauw" yang sangat nyaring. terdengar sampai kamarku.
Aku cepat cepat membuka pintu kamar. tentunya dengan pelan supaya tidak ketahuan. lalu, kuraih lem kertas yang terletak di rak koran milik ayahku.
Pelan-pelan tapi pasti, kutempel surat palsuku didepan pintu kamar Marina. Ahh, sepertinya dia tidak menyadarinya. Baguslah!
Setelah menempel surat palsu, aku kembali ke kamarku. kukunci rapat pintu, dan kututup jendela rapt-rapat supaya terlihat bahwa aku sedang pergi. Haaa... Cerdik kan, ideku?
***
Lima belas menit setelah menempel surat palsu, aku menunggu reaksi. Nah! Baru bereaksi!
Marina keluar kamar sambil menggendong seekor anak kucing kecil berwarna putih. Eh? sejak kapan Marina hobi memelihara anak kucing? Astaga! Anak kucingnya lucu sekali! Dari dulu, aku ingin memelihara anak kucing. tapi, aku tidak diperbolehkan bunda. aku dan Marina hanya boleh memelihara Michey. Tapi lama kelamaan, aku bosan. Michey kuberikan pada Marina.
***
"Puuuss Puuss!! Aduuhh lucunya kamu! eh, ada surat!" seru Marina sambil membaca surat palsu dariku.
"Ohh jadi, Arina sedang pergi? Pantas kupanggil tadi dia tak ada!" kata Marina disusul tawanya.
"Sebenarnya, aku ingin memberikan anak kucing Michey pada Arina. tapi, Arina sedang pergi. yaaah... enggak jadi! Michey melahirkan tiga ekor anak dan sangat cute. Huhh.. untung saja diperbolehkan bunda!" kata Marina. ia berlalu dari kamarnya.
***
"APA!? MARINA MAU MEMBERIKAN ANAK KUCING PADAKU!?" seruku dalam hati. Aku merasa menyesal telah menghindari panggilannya. aku pun menyusun rencana lagi.
Akhirnya, aku memutuskan untuk memakai baju pergi. lalu, aku membuka pintu kamar. Ah, Marina dikamarnya! Baguslah!
Aku mengetuk pintu kamar Marina.
"Hai!" sapaku.
"Arina! Sudah pulang? kebetulan! Ini !" sapa Marina hangat sambil menyodorkan dua ekor anak kucing kecil untukku.
"Wah! makasih!" balasku. diam-diam, aku merasa bersalah telah menghindari panggilan kaka kembarku...
"Pas deh! aku punya dua kucing, kamu juga!" kata Marina riang.
"Mar, sebenernya..." Aku menceritakan ulahku tadi.
mendengar ceritaku, Marina tertawa renyah.. "aku memang tahu kamu hanya pura-pura.maafin aku ya. aku suka bawel tentang kucing. makanya, tadi aku ngomong kalo aku mau ngasih kamu anak kucing, itu cuma aktingku saja supaya kamu mau keluar kamar. Tapi jangan salah ya, ini anak kucing Michy lho!" Cerita Marina.
Tuh kan, ia berceloteh lagi? Tapi, kali ini aku tidak pernah kesal mendengarkan celotehannya karna aku pun memiliki kucing piaraan sekarang!!!